Mencuatnya kabar mengenai arisan seks sejumlah pelajar di
Situbondo cukup membuat kita geleng-geleng kepala seraya mengelus dada. Sungguh
fenomena yang sangat mencengangkan. Bagaimana tidak, sekolah yang seharusnya
memproduksi manusia-manusia unggulan yang berdimensi kepada akhlaq karimah
justru melakukan perbuatan tak bermoral.
Melihat kejadian itu pastinya akan
timbul pertanyaan di benak kita “sudah seberapa besarkah efek positif proses pendidikan
di lingkungan sekolah terhadap para peserta didik?”. Dan atas fenomena ini
setidaknya menjadi bukti kecil bahwasannya ada yang kurang beres dengan proses
pendidikan di negeri ini.
Kurikulum
pendidikan formal nyatanya tidak cukup mampu untuk mengarahkan para pelajar
kita untuk menjadi pribadi-pribadi yang diharapkan mampu merubah keadaan bangsa
ini di masa depan. Para pelajar kita saat ini lebih tertarik untuk mendengarkan
dan melakukan apa-apa yang “diinginkan” oleh “guru-guru” nonformal selepas
sekolah seperti apa yang disuguhkan oleh
televisi, internet, majalah dan lain sebagainya. Ya, media saat ini telah menjadi
salah satu “guru” nonformal yang lebih disukai oleh pelajar kita saat ini. Lihat
saja budaya mereka dan sosok-sosok yang mereka tiru saat ini. Bukankah itu
semua mereka dapatkan dari media. Lantas bagaimana kita seharusnya menyikapi
keadaan yang demikian ?.
Pemerintah
mungkin adalah pihak yang paling harus bertindak extra dalam menyelesaikan
masalah ini, peng-filterisasian tayangan dan konten-konten di media haruslah
lebih diperketat. Sehingga ranah pendidikan nonformal –yang lebih berpengaruh
terhadap para pelajar- mampu menyokong terhadap apa yang telah diberikan
pendidikan formal di sekolah. Dan harapannya ke depan sinergitas yang baik
antara visi pendidikan formal dengan konten-konten ranah nonformal mampu
menghasilkan generasi penerus bangsa yang berkarakter dan mampu menjadi problem
solver bagi bangsa kita tercinta ini. []
Yahya Ghulam Nasrullah
Mahasiswa STAI Luqman al-Hakim Surabaya
0 komentar:
Posting Komentar